Cari

Tutup Iklan

Keluarga Misni Butuh Sentuhan Pemerintah

Keluarga Misni Butuh Sentuhan Pemerintah

KM. Sukamulia – Kemiskinan adalah masalah umum yang dihadapi oleh bangsa ini. Maraknya program pemberantasan kemiskinan masih saja belum bisa mengentaskan

Pengaduan Kampung

Keluarga Misni Butuh Sentuhan Pemerintah

Keluarga Misni Butuh Sentuhan Pemerintah

Keluarga Misni Butuh Sentuhan Pemerintah

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
10 Agustus, 2017 05:22:23
Pengaduan Lain-Lain
Komentar: 0
Dibaca: 1176 Kali

KM. Sukamulia – Kemiskinan adalah masalah umum yang dihadapi oleh bangsa ini. Maraknya program pemberantasan kemiskinan masih saja belum bisa mengentaskan kemiskinan masyarakat Indonesia secara dan masih ada saja keluarga miskin yang belum tersentuh oleh program pemberantasan kemiskinan tersebut. Keluarga Misni (52 tahun) adalah salah satu keluarga miskin yang hingga saat ini belum tersentuh oleh program pemberantasan kemiskinan itu, sehingga ia sangat mengharapkan sentuhan dan perhatian dari pihak pemerintah.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar mengenai kehidupan Misni dan keluarganya. Cerita itu saya dengarkan dari saudara Mustiawan (Rekan guru di SMK NW Kokok Putik). Ia menceritakan hal itu kepada saya karena merasa perihatin atas kehidupan keluarga miskin tersebut. Usai bercerita, ia meminta saya untuk menceritakan keadaan keluarga miskin itu di halaman Kampung Media dengan harapan ada orang dermawan atau pihak pemerintah yang perduli terhadap Misni dan keluarganya.

Menindaklanjuti hal itu, saya-pun mengajak Mustiawan untuk berkunjung ke rumah Misni dan ahirnya kunjungan itu bisa kami lakukan tadi sore (Rabu, 09 Agustus 2017). Hasil kunjungan itulah yang akan kami ceritakan pada artikel ini dengan harapan ada pihak yang berkenan membantu keluarga Misni agar kehidupannya lebih baik dari hari ini.

Warga dan pencinta Kampung Media yang kami banggakan, Misni adalah salah seorang warga Dusun Reguar Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun yang kehidupannya masih sangat memperihatinkan. Misni dan suaminya hanya memiliki tanah pekarangan seluas satu are, mereka tidak punya tanah garapan ataupun yang lainnya. Di atas tanah seluas satu are itu, Misni dan suaminya (Amaq Haerudin/56 tahun) mendirikan rumah berpagar bedek dengan luas 4 m x 6 m dan di dalam rumah itu mereka tinggal bersama 5 (lima) orang anaknya.

Saat melakukan kunjungan, saya menyaksikan langsung bagaimana keadaan kediaman keluarga Misni, yaaa kehidupan mereka sangat memperihatinkan. Rumah berukuran 4 m x 6 m yang mereka huni hanya terdiri dari satu kamar yang berlantaikan tanah. Di kamar itu Misni memasak dan tidur beserta suami dan 5 orang anaknya. Kamar itu terlihat semeraut dengan pakaian yang tergantung pada sebagian besar dinding kamar.

Pojok kamar itu, Misni jadikan sebagai dapur. Ia memasak menggunakan tungku yang ia buat dari batu. Alat-alat memasaknya juga tidak banyak dan ia hanya punya 7 buah piring. Di pojok itu juga saya melihat dua buah jerigen dan dua buah ember bekas kaleng cat yang digunakan sebagai tempat menyimpan air minum. Misni tidak punya satupun alat masak yang menggunakan energi listrik. Di pagar pojok kamar itu, Misni menggantung peralatan masaknya sebab ia tidak punya rak sebagai tempat menaruh alat-alat dapur dan pringnya.

Di dalam rumah itu tidak ada satupun lemari, apalagi kursi, bupet dan alat elektonik. Di sana saya hanya melihat dua buah ranjang yang terbuat dari bahan bambu. Di atas ranjang itu tergelar tikar lusuh sebagai alas tidur mereka. Di atas ranjang itu juga terlihat lima buah bantal yang ditaruh semerawut. Dinding kamar itu dihiasi oleh pakaian mereka yang tergantung pada bagian pagar rumahnya.

Di bagian belakang, pagar rumah itu sudah terlihat banyak bagian yang robek, atapnya juga sudah terlihat bolong-bolong, maklumlah atap rumah itu terbuat dari anyaman ilalang. Untuk penerangan, rumah mereka hanya menggunakan satu buah lampu pijar yang listriknya diambil dari rumah tetangga (ngalir: Bahasa Sasak), sedangkan penerangan untuk rumah bagian luar, mereka menggunakan lampu sumbu (dile lenterang: bahasa setempat). Yach… demikianlah gambaran kediaman dan kehidupan Misni dan keluarganya yang begitu memperihatinkan namun sampai saat ini Misni tidak pernah mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah. Terkait dengan hal itu, berikut kami tuliskan pengakuan Misni dan suaminya (Amaq Haerudin).

“Sampai saat ini saya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, misalnya saja BLT, Bantuan Rumah Kumuh dan lain-lain. Bahkan saya tidak mendapatkan Kartu Kesehatan (BPJS)”, ungkap Misni. “Tidak ada yang perlun disembunyikan pak, memang benar hingga saat ini saya dan istri saya belum pernah mendapatkan bantuan KIS, BPJS ataupun yang lainnya, bahkan anak-anak saya tidak mendapat Bantuan Siswa Miskin di sekolahnya”, sambung Amaq Haerudin.

Baca Juga :


Perlu diketahui bahwa untuk menghidupi keluarganya, Misni dan suaminya bekerja sebagai buruh tani yang anemonya itu adalah pekerjaan tidak tetap dan penghasilannya juga rendah. “Kami tidak punya kebun, sawah ataupun ladang sehingga kami hanya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Jika kami bekerja satau hari, kami hanya mendapatkan upah sebesar Rp. 40.000,- dan kami bisa mendapatkan buruhan pada saat musim mente saja”, cerita Amaq Haerudin.

Misni dan suaminya juga menceritakan bahwa pada saat musim tidak ada buruhan, mereka dan anak-anaknya sering tidak makan dan terkadang mereka dapat makan karena diberi beras oleh tetangganya. Kadang pula mereka berhutang dan nantinya akan dibayar dengan bekerja sebagai buruh saat ia dibutuhkan oleh orang tempatnya berhutang. “Jujur saja pak, kami sering tidak dapat makan, terutama pada saat tidak ada buruhan. Terkadang kami diberi beras oleh tetangga sekitar dan terkadang pula kami memberanikan diri untuk berhutang dengan jaminan tenaga kami sebagai bayarnya ketika nanti orang tempat kami berhutang itu membutuhkan buruh untuk mengerjakan ladang atau kebun mereka”, papar Misni.

Kami semakin perihatin mendengar keterangan Misni mengenai sekolah anak-anak-nya. “Mengenai sekolah anak-anak kami, anak kami yang paling besar (Hendi) tamat MI tahun lalu (2016) dan ia tidak dapat melanjutkan sekolah karena kami tidak memiliki biaya transportasi dan belanja kebutuhan sekolahnya yang padahal ia sangat ingin melanjutkan sekolah, anak kami yang kedua (Arni) masih kelas 6 MI, anak ketiga kami (Hadrin) kelas 4 MI, yang keempat (Haerani) kelas 2 MI dan yang terahir (Erfini) baru masuk MI”, kata Misni dengan nada lirih.

Warga dan pencinta Kampung Media yang budiman, Misni sangat berharap suatu hari pemerintah memberikan sentuhan dan perhatian kepada keluarganya. “Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah supaya kehidupan anak-anak kami lebih baik dari sekarang”, harapnya.

Demikianlah cerita mengenai kehidupan Misni dan keluarganya yang cukup memperihatinkan. Semoga semoga keluh kesah Misni dan suaminya yang kami tulis ini bisa sampai kepada pihak pemerintah agar pihak terkait dapat mengabulkan harapan mereka. Terimakasih dan salam dari kampung.

_By. Asri The Gila_ () 



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

    30 Hari Terakhir
    Sepanjang Waktu

Komentar Terbanyak

    30 Hari Terakhir
    Sepanjang Waktu

 

image
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan