logoblog

Cari

Tutup Iklan

THR Ku Sayang GTT Ku Malang

THR Ku Sayang GTT Ku Malang

Bulan Ramadhan merupakan berkah bagi para umat Muslim.   Sudah menjadi tradisi kultural di Indonesia apabila menjelang Hari Raya Idul Fitri,

Pengaduan Kampung

rato rizal
Oleh rato rizal
07 Juni, 2017 04:04:56
Pengaduan Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 7198 Kali

Bulan Ramadhan merupakan berkah bagi para umat Muslim.   Sudah menjadi tradisi kultural di Indonesia apabila menjelang Hari Raya Idul Fitri, para pekerja mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) sehingga pekerja dapat memanjakan keluarga mereka dengan pakaian baru, perlengkapan alat  Sholat, hidangan lezat di Hari Raya atau sekedar melepas penat bersama keluarga.

Adakah Undang-Undang atau peraturan yang mengatur mengenai THR?  Ada, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Buruh/Pekerja di Perusahaan dimana peraturan ini menggantikan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER.04/MEN/1994.Siapa yang wajib membayar THR? Berdasarkan Permenaker No.6/2016, setiap orang yang mempekerjakan orang lain dengan imbalan upah wajib membayar THR, baik itu berbentuk perusahaan, perorangan, yayasan atau perkumpulan.  

Itukan Payung hukum untuk pekerja atau buruh yang selalu diperhatikan nasibnya oleh pemerintah khususnya kementerian terkait, hal itu tidak berlku bagi dunia pendidikan. Ironis memang jika kita mendengarkan keluh kesah dan cerita teman teman Honor yang mengabdikan jiwa dan raganya demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Lagi lagi penulis menuliskan keluhan beberapa kawan GTT dan PTT yang merasa terzolimi dengan kebijakan pemerintah terutama dengan adanya pengurangan di Dana BOS yang mengharuskan sekolah mengadakan pengadaan buku K 13 secara online,hal ini secara langsung berdampak signifikan bagi penerimaan honor mereka. Honor aja udah kurang, eeee dikurangi lagi dengan harus membeli buku, pastinya banyak item yang harus dikurangi termasuk pos pembayaran Honor GTT dan PTT. Hal ini berbanding terbalik dengan buruh yang telah dilindungi dengan payung hukum seperti yang tercantum diatas, padahal mereka hanya bertangggung jawab pada kualitas barang, sementara GTT dan PTT bertanggung jawab pada kulitas masa depan anak.

 

Baca Juga :


Pertanyaan sederhana muncul, kok bisa GTT dan PTT yang rata rata sarjana hanya diupah tidak lebih tinggi dari gaji seorang asisten rumah tangga di wilayah pedesaan? Sedangkan tenaga kerja pabrik bisa mendapat upah sampai dengan UMR, lah honor GTT dan PTT apakan tidak dihitung UMR juga? Berharap honor bisa bertambah saja sudah sangat bersyukur apalagi bisa dapat THR, waduh mustahil sekali terjadi. Terkadang putus asa selalu datang menyapa. Ngabdi dah puluhan tahun, diangkat jadi PNS tidak, dinaikkan honor tidak, yaaa sabar lah.  

Kita hanya bisa berharap suatu hari nanti pemerintah pusat dapat mengkaji kembali kebijakannya khususnya menyangkut kesejahteraan GTT dan PTT dapat terakomodir. (rato) -03



 
rato rizal

rato rizal

Mohamad Rizal Suryadin,S.Pd beralamat di Barabali PNS di SMPN Satu Atap 1 Batukliang . Hp. 08175748304 e-mail rato_suryadin@yahoo.co.id sejarah digali dari tulisan, maka nanti tulisan kita akan menjadi sejarah.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

    30 Hari Terakhir
    Sepanjang Waktu

Komentar Terbanyak

    30 Hari Terakhir
    Sepanjang Waktu

 

image
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan