logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sampah di Jalur Pasar Bertais Menumpuk

Sampah di Jalur Pasar Bertais Menumpuk

Aku menutup hidungku ketika memasuki pasar itu, aroma tidak sedap terasa menusuk ke dalam hidungku. Terlihat tumpukan sampah memadati jalanan masuk

Pengaduan Kampung

Akhmad Iman Taufik
Oleh Akhmad Iman Taufik
03 Juni, 2017 12:38:51
Pengaduan Lain-Lain
Komentar: 0
Dibaca: 5167 Kali

Aku menutup hidungku ketika memasuki pasar itu, aroma tidak sedap terasa menusuk ke dalam hidungku. Terlihat tumpukan sampah memadati jalanan masuk menuju pasar itu. Sampah menumpuk memanjang. Berbagai sampah terlihat di sana baik itu sampah organik maupun sampah anorganik. Begitulah keadaan jalan masuk sebelah selatan pasar tradisional Mandalika, Bertais, Cakranegara, NTB.

            Di abad ke 21 sekarang ini, sudah banyak pusat perbelanjaan modern yang menawarkan kenyamanan, kebersihan, dan keamaan. Pasar tradisional yang seharusnya bersaing malah masih memiliki beberapa masalah, salah satunya adalah masalah mengenai sampah yang menumpuk dan berbau busuk. Masalah sampah ini tentu saja sangat mengganggu kenyamanan para pengunjung pasar. Jika pasar tradisional ingin tetap dapat bersaing dan tetap axis dalam berbisnis maka masalah sampah ini harus segera diatasi.

            Saat memasuki pasar Mandalika melalui sebelah selatan kita akan disambut oleh tumpukan sampah seperti sampah plastik, sampah sobekan kertas, potongan-potongan kayu dan dedaunan, ban-ban mobil yang sudah rusak dan tak terpakai, potongan ubi, kardus yang rusak, kulit nangka, kulit pisang, jerami, gabus, besi, buah salak yang busuk dan lain sebagainya. Tentu saja sampah itu mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap. Sa’nah salah seorang pengunjung pasar mengatakan “sampah ini sudah dua hari tidak diangkut oleh mobil pengangkut sampah” sambil menunjuk sampah yang menutupi terotoar jalan, “kalau sudah seminggu tidak diangkut, maka sampah ini akan menutupi sebagian badan jalan” lanjutnya. Sadrah, pria tua berbadan kurus yang berkulit sawo matang dan berambut pendek yang sudah terlihat memutih sebagian besar rambutnya adalah salah satu petugas kebersihan di desa Bertais, saat itu Sadrah mengenakan topi berwarna purih, baju kaus berwarna putih, dan mengenakan celana olahraga pendek sedang menurunkan sampah yang dibawanya menggunakan gerobak sampah berwarna kuning, cat gerobak sampah dari pemerintah itu sudah memudar dan gerobak itu sudah mulai berkarat. Di bagian belakang gerobak sampah itu ada karung yang diikat menggunakan tali, terlihat sampah plastik ada di dalam karung tersebut.  Ia menurunkan sampah-sampah yang dibawanya menggunakan sebuah sekop. Pria yang tinggal di desa Bertais yang memiliki seorang istri, empat orang anak, dan tiga orang cucu itu mengatakan “tempat ini memang sudah menjadi tempat sampah sejak dulu”. Sadrah juga mengatakan “sampah-sampah ini bukan hanya berasal dari pasar saja, akan tetapi dari desa-desa yang ada di sekitar pasar, bahkan perumahan yang ada di dekat sini juga membuang sampah di sini”. Maka tentu saja tidak mengherankan jika di sana terdapat begitu banyak sampah dengan berbagai jenis yang berbeda.

            Pedagang di pasar itu mengatakan setiap bulan ada iuran kebersihan sebesar Rp.10.000,00. Sampah-sampah di sana memang dibersihkan dan di angkut, pembuangan sampah di jalan sebelah selatan itu tetap saja sangat mengganggu dikarenakan tidak adanya tempat sampah di sana. Sampah-sampah di sana hanya diletakkan begitu saja di sepanjang terotoar. Saat sampah itu semakin banyak maka sebagian jalanpun tertutp oleh sampah-sampah tersebut. Saat hal itu terjadi, petugas kebersihan menggunakan alat berat untuk memindahkan sampah yang berada di jalanan ke pinggir jalan.

 

Baca Juga :


Sebelum menjadi sampah, pastilah sebelumnya sampah-sampah itu adalah sesuatu yang berguna, sesuatu yang dibuat, bahkan sesuatu yang diharapkan. Namun setelah sesuatu itu sudah rusak, sudah tidak berguna lagi maka akan dibuang dan tidak diperdulikan lagi, bahkan menjadi sesuatu yang mengganggu dan tidak disukai. Contohnya ban-ban bekas, dahulu ban itu dibuat kemudian digunakan sebagai roda kendaraan bermotor yang membantu kendaraan itu dapat berjalan dan setia menemani orang-orang bepergian kemanapun juga. Namun setelah rusak, ban itu dibuang dan menjadi sesuatu yang mengganggu yaitu sampah. Sampah buah busuk juga seperti itu. Dahulu petani merawat pohonnya dengan susah payah tak perduli panas maupun hujan, kemudian pohon itu berbuah yang membuat sang petani bahagia, buahnya itupun dijual berharap dapat mengisi perut orang-orang yang membuat sang petani itu merasakan kebahagiaan tersendiri. Namun ketika buahnya itu busuk, tidak ada yang mau membeli dan akhirnya buah itupun dibuang dan akhirnya menjadi sampah.

            Namun ternyata sampah di pasar tradisional mandalika itu tidaklah sepenuhnya mengganggu, tidaklah sepenuhnya tidak berguna, dan tidaklah sepenuhnya tidak diharapkan oleh orang. Ternyata beberapa sampah itu masih berguna untuk beberapa orang seperti pemulung. Terlihat beberapa orang memilih-milih sampah itu untuk diambil dan kemudian dijual, sampah yang dipilih adalah sampah plastik dan sampah besi. Selain itu ada juga yang mengambil sampah dahan-dahan pohon untuk dijadikan kayu bakar dan juga sampah buah-buahan busuk  seperti salak busuk yang akan dibersihkan dan dipilih untuk kemudian diolah kembali.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

    30 Hari Terakhir
    Sepanjang Waktu

Komentar Terbanyak

    30 Hari Terakhir
    Sepanjang Waktu

 

image
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan